Rabu, 24 Desember 2025

LAPORAN AUDIT ENERGI SEDERHANA (Tugas Terstruktur 13)

 

LAPORAN AUDIT ENERGI SEDERHANA

Industri Tahu–Tempe Skala UMKM

Profil Unit Usaha & Diagram Alir Proses

Kelompok :
Wisnu Prastyo aji
Shelly Anastasya Mutiara
Qhobid Casio

A. Profil Unit Usaha

  • Nama Unit Usaha: Industri Tahu–Tempe “Makmur”

  • Jenis Usaha: Produksi tahu dan tempe

  • Skala Usaha: UMKM

  • Produk Utama:

    • Tahu putih

    • Tempe kedelai

  • Kapasitas Produksi: ± 1.000 potong tahu per hari

B. Diagram Alir Proses Produksi

Kedelai (Bahan Baku) ↓ Perendaman Kedelai ↓ Penggilingan (Mesin Listrik) ↓ Perebusan Bubur Kedelai (Kompor LPG) ↓ Penyaringan ↓ Pencetakan Tahu ↓ Pemotongan & Pendinginan ↓ Produk Tahu Siap Dijual

Titik Masuk Energi:

  • Mesin penggiling → listrik

  • Kompor perebusan → LPG

  • Lampu & peralatan pendukung → listrik


3. Identifikasi Sumber dan Intensitas Energi

A. Sumber Energi yang Digunakan

NoSumber EnergiJenis Energi
1Listrik PLN Direct Energy
2LPG 3 kgDirect Energy
3Energi manusia (tenaga kerja) Indirect Energy

B. Estimasi Penggunaan Energi per Bulan

Sumber EnergiJumlah Penggunaan
Listrik500 kWh/bulan
LPG 3 kg10 tabung/bulan (total 30 kg LPG)

4. Perhitungan Dasar (Analisis Kuantitatif)

A. Konversi ke Satuan Mega Joule (MJ)

1. Listrik
1 kWh = 3,6 MJ

500 kWh×3,6=1.800 MJ

2. LPG
1 kg LPG ≈ 46 MJ

30 kg LPG×46=1.380 MJ

Total Konsumsi Energi per Bulan:

1.800+1.380=3.180 MJ/bulan

B. Intensitas Energi

Produksi tahu per bulan:
1.000 potong/hari × 30 hari = 30.000 potong/bulan

Intensitas Energi=3.180 MJ30.000 potong=0,106 MJ/potong tahu

C. Estimasi Jejak Karbon (Emisi CO₂)

1. Emisi dari Listrik
Faktor emisi PLN = 0,85 kg CO₂/kWh

500×0,85=425 kg CO₂

2. Emisi dari LPG
Faktor emisi LPG = 2,9 kg CO₂/kg

30×2,9=87 kg CO₂

Total Emisi CO₂ per Bulan:

425+87=512 kg CO₂/bulan


5. Analisis Efisiensi dan Rekomendasi

A. Identifikasi Kehilangan Energi (Energy Loss)

  1. Panas dari proses perebusan banyak terbuang ke udara karena tungku tidak tertutup.

  2. Mesin penggiling tetap menyala meskipun tidak digunakan (idling).

  3. Lampu dan peralatan listrik menyala sepanjang hari tanpa pengaturan waktu.

B. Rekomendasi Efisiensi Energi

  1. Menutup atau mengisolasi tungku perebusan
    → Mengurangi panas terbuang dan menurunkan konsumsi LPG.

  2. Mengatur waktu operasi mesin penggiling
    → Mesin hanya dinyalakan saat diperlukan untuk menghindari pemborosan listrik.

  3. Mengganti lampu konvensional dengan lampu LED
    → Konsumsi listrik lebih rendah dan umur pakai lebih lama.

Minggu, 14 Desember 2025

Observasi Perilaku Konsumsi Tidak Berkelanjutan di Kantin Kampus ( Tugas Mandiri 12 )

 

Laporan Observasi

Perilaku Konsumsi Tidak Berkelanjutan di Kantin Kampus

1. Lokasi dan Waktu Observasi

  • Lokasi: Kantin Kampus

  • Waktu Observasi: Jam makan siang (± pukul 11.30–12.30)

  • Durasi: ± 45 menit

Observasi dilakukan pada waktu puncak aktivitas, di mana sebagian besar mahasiswa dan staf kampus melakukan pembelian makanan dan minuman.

2. Hasil Pengamatan Perilaku Konsumsi Tidak Berkelanjutan

 
No. Perilaku Konsumsi Tidak Berkelanjutan (Deskripsi Singkat) Frekuensi / Tingkat Kejadian Dampak Negatif Utama
1 Membeli air mineral botol plastik sekali pakai lalu langsung dibuang setelah diminum Sangat sering Penumpukan sampah plastik sekali pakai
2 Makanan take-away menggunakan styrofoam atau plastik tanpa opsi wadah ramah lingkungan Sangat sering Sampah non-daur ulang dan pencemaran lingkungan
3 Penggunaan sedotan plastik untuk minuman dingin meskipun tidak diperlukan Sering Penambahan limbah plastik kecil namun masif
4 Sisa makanan tidak dihabiskan dan dibuang ke tempat sampah Sering Pemborosan makanan dan emisi dari limbah organik
5 Tidak adanya pemilahan sampah (organik dan anorganik tercampur) Sangat sering Menurunnya potensi daur ulang dan pengolahan limbah

3. Analisis Penyebab Perilaku yang Paling Sering Terjadi

Tiga perilaku yang paling sering ditemukan adalah penggunaan botol plastik sekali pakai, kemasan makanan tidak ramah lingkungan, dan tidak adanya pemilahan sampah. Beberapa penyebab utamanya antara lain:

  1. Faktor kenyamanan dan kepraktisan
    Konsumen cenderung memilih opsi paling mudah dan cepat, seperti membeli minuman kemasan dibanding membawa botol minum sendiri.

  2. Kurangnya fasilitas alternatif
    Tidak tersedia air minum isi ulang, wadah ramah lingkungan, atau tempat sampah terpilah yang memadai di area kantin.

  3. Kebiasaan dan rendahnya kesadaran lingkungan
    Konsumen belum terbiasa menerapkan perilaku konsumsi berkelanjutan dan belum memahami dampak jangka panjang dari sampah yang dihasilkan.

4. Saran Solusi Praktis

Untuk mengurangi praktik konsumsi tidak berkelanjutan di kantin kampus, berikut tiga rekomendasi solusi yang dapat diterapkan:

  1. Penyediaan fasilitas ramah lingkungan
    Pengelola kantin dapat menyediakan galon air minum isi ulang dan tempat sampah terpilah (organik dan anorganik).

  2. Insentif bagi konsumen berkelanjutan
    Memberikan potongan harga bagi mahasiswa yang membawa botol minum atau wadah makanan sendiri.

  3. Edukasi dan kampanye lingkungan
    Memasang poster atau media edukasi singkat di area kantin tentang dampak sampah plastik dan pentingnya konsumsi berkelanjutan.

Kesimpulan:
Berdasarkan hasil observasi, praktik konsumsi tidak berkelanjutan masih sering terjadi di kantin kampus. Namun, melalui penyediaan fasilitas yang mendukung, perubahan kebijakan pengelola, dan peningkatan kesadaran konsumen, perilaku konsumsi yang lebih berkelanjutan dapat mulai diterapkan secara bertahap.

Mulai dari Rumah: 3 Langkah Menjadi Konsumen Berkelanjutan ( Tugas Terstruktur 12 )



 


Analisis Potensi Reverse Logistics pada Baterai Smartphone Bekas di Indonesia (Tugas Mandiri 11)

1. Pemilihan Produk dan Fokus Analisis

A. Pemilihan Produk

Produk/limbah yang dipilih dalam tugas ini adalah baterai smartphone bekas, yang termasuk dalam kategori Limbah Elektronik (E-Waste). Baterai smartphone dipilih karena jumlah pengguna smartphone di Indonesia sangat besar, sementara baterai memiliki umur pakai terbatas dan mengandung bahan berbahaya seperti litium, kobalt, dan elektrolit kimia.

B. Fokus Analisis

Fokus utama analisis ini adalah menjawab pertanyaan: apakah baterai smartphone bekas sudah memiliki sistem alur balik (reverse logistics) yang efektif di Indonesia, serta bagaimana potensi pengembangannya ke depan. Saat ini, sistem pengelolaan baterai bekas di Indonesia masih terbatas dan belum terintegrasi secara nasional.

2. Metodologi Observasi dan Pencatatan

Data diperoleh melalui pengamatan umum di lingkungan masyarakat, informasi dari situs resmi produsen smartphone, program e-waste, serta berita daring terkait pengelolaan limbah elektronik di Indonesia.

A. Alur Maju (Forward Flow)

Alur distribusi baterai smartphone bersifat tidak terpisah dari produk smartphone itu sendiri. Produsen mendistribusikan smartphone melalui distributor nasional, kemudian ke ritel resmi maupun daring, hingga akhirnya dibeli dan digunakan oleh konsumen.

B. Pengelolaan Limbah Saat Ini (Current State)

Pihak yang Mengumpulkan:
Sebagian kecil baterai smartphone bekas dikumpulkan melalui program e-waste oleh produsen tertentu, drop box di pusat perbelanjaan, atau diserahkan ke bank sampah khusus. Namun, mayoritas baterai bekas masih disimpan di rumah atau dibuang bersama sampah elektronik lain secara informal.

Alat/Infrastruktur Pengumpulan:
Infrastruktur pengumpulan masih terbatas, seperti drop box e-waste di mall, kantor, atau event tertentu. Akses terhadap fasilitas ini belum merata di seluruh wilayah.

Destinasi Akhir:
Baterai yang terkumpul umumnya dikirim ke pengepul e-waste atau pihak ketiga untuk disimpan sementara, diekspor, atau diproses secara terbatas. Banyak baterai berakhir di TPA atau lingkungan informal.

Keberlanjutan Sistem:
Sistem pengumpulan belum berjalan rutin, kurang mudah diakses, dan minim insentif bagi konsumen, sehingga partisipasi masyarakat masih rendah.

3. Analisis Potensi Alur Balik (Reverse Flow Potential)

A. Identifikasi Nilai (Value Recovery)

Nilai utama yang dapat dipulihkan dari baterai smartphone bekas adalah Recycling/Daur Ulang. Material bernilai seperti litium, kobalt, dan nikel dapat diekstraksi kembali untuk bahan baku baterai baru atau produk elektronik lainnya.

B. Usulan Alur Balik Ideal

Titik Inisiasi Pengembalian:
Proses pengembalian idealnya dimulai oleh konsumen, dengan dukungan produsen melalui skema Extended Producer Responsibility (EPR).

Aliran Logistik Balik:
Konsumen mengembalikan baterai bekas ke drop box di ritel resmi atau pusat layanan purna jual. Selanjutnya, baterai dikumpulkan secara berkala menggunakan transportasi darat menuju pusat pengumpulan regional untuk penyortiran dan penyimpanan aman.

Destinasi Akhir:
Baterai kemudian dikirim ke fasilitas daur ulang khusus e-waste, baik di dalam negeri (jika tersedia) maupun melalui kerja sama pengolahan regional.

C. Tantangan dan Rekomendasi

Tantangan 1: Rendahnya kesadaran konsumen mengenai bahaya dan nilai baterai bekas.
Tantangan 2: Keterbatasan infrastruktur dan biaya logistik pengumpulan e-waste.

Rekomendasi:
Pemerintah dan produsen perlu memperkuat regulasi EPR serta memberikan insentif langsung bagi konsumen, seperti potongan harga atau poin reward saat mengembalikan baterai bekas, guna meningkatkan partisipasi dan efektivitas sistem reverse logistics.

Kesimpulan Singkat:
Baterai smartphone bekas di Indonesia belum memiliki sistem alur balik yang efektif. Namun, dengan nilai material yang tinggi dan dukungan kebijakan serta kolaborasi produsen–konsumen, sistem reverse logistics memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan.

Analisis Green Supply Chain Management pada Produk Air Mineral Kemasan Botol Plastik (Tugas Terstruktur 11)

 

1. Pemilihan dan Pemetaan Produk

A. Pemilihan Produk

Produk yang dipilih dalam analisis ini adalah air mineral dalam botol plastik PET ukuran 600 ml, yang termasuk dalam kategori Minuman Kemasan. Produk ini dipilih karena tingkat konsumsinya sangat tinggi di Indonesia dan berkontribusi signifikan terhadap timbulan sampah plastik.

B. Pemetaan Rantai Pasok Konvensional

Berikut adalah pemetaan rantai pasok konvensional air mineral kemasan botol plastik secara sistematis:

Pengadaan Bahan Baku (Sourcing)
Bahan baku utama meliputi plastik PET virgin yang berasal dari minyak bumi, air baku dari sumber mata air atau air tanah, serta bahan tambahan seperti label plastik dan tutup botol.


Produksi / Manufaktur
Proses produksi dilakukan di pabrik pembotolan yang meliputi pembuatan botol (blowing), pengolahan dan penyaringan air, pengisian (filling), serta pengemasan. Tahapan ini memerlukan konsumsi energi listrik dan air yang cukup besar.


Logistik Masuk & Keluar (Inbound & Outbound Logistics)
Bahan baku plastik dan kemasan diangkut ke pabrik menggunakan truk berbahan bakar diesel. Produk jadi kemudian didistribusikan ke gudang dan distributor dengan moda transportasi darat.


Distribusi / Ritel
Produk disalurkan melalui distributor, grosir, minimarket, supermarket, dan pedagang kaki lima hingga akhirnya dibeli oleh konsumen.


Akhir Masa Pakai (End-of-Life)
Sebagian besar botol plastik dibuang sebagai sampah rumah tangga. Hanya sebagian kecil yang dikumpulkan oleh pemulung untuk didaur ulang, sementara sisanya berakhir di TPA atau mencemari lingkungan.

2. Analisis Dampak Lingkungan (Titik Kritis)

Titik Kritis 1: Pengadaan Bahan Baku

Masalah Lingkungan:
Penggunaan plastik PET virgin yang berasal dari bahan bakar fosil menyebabkan emisi gas rumah kaca tinggi dan meningkatkan ketergantungan pada sumber daya tak terbarukan.

Titik Kritis 2: Logistik dan Distribusi

Masalah Lingkungan:
Distribusi jarak jauh menggunakan truk diesel menghasilkan emisi CO₂ yang signifikan, terutama ketika efisiensi muatan rendah dan rute distribusi tidak optimal.

3. Usulan Strategi Green Supply Chain Management (GSCM)

Strategi 1: Pengadaan Hijau (Green Sourcing)

Prinsip GSCM: Green Sourcing
Deskripsi Strategi: Mengganti minimal 50% plastik PET virgin dengan plastik PET daur ulang (rPET).
Implementasi: Menjalin kemitraan dengan pemasok rPET lokal dan berinvestasi pada teknologi pemurnian rPET food grade.
Manfaat Lingkungan: Mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dan menurunkan volume sampah plastik ke TPA.

Strategi 2: Logistik Hijau (Green Logistics)

Prinsip GSCM: Green Logistics
Deskripsi Strategi: Optimalisasi rute distribusi dan peningkatan tingkat muatan kendaraan.
Implementasi: Menggunakan sistem manajemen transportasi (TMS) untuk perencanaan rute dan konsolidasi pengiriman.
Manfaat Lingkungan: Penurunan emisi CO₂ dari sektor transportasi dan peningkatan efisiensi bahan bakar.

Strategi 3: Reverse Logistics

Prinsip GSCM: Reverse Logistics
Deskripsi Strategi: Penerapan sistem pengembalian botol plastik pasca-konsumsi (take-back system).
Implementasi: Menyediakan drop box botol di ritel modern dan bekerja sama dengan bank sampah.
Manfaat Lingkungan: Meningkatkan tingkat daur ulang dan mengurangi pencemaran plastik di lingkungan.

Kesimpulan Singkat:
Penerapan strategi GSCM pada produk air mineral kemasan botol plastik berpotensi signifikan dalam menekan dampak lingkungan, khususnya pada penggunaan material dan aktivitas logistik. Dengan pendekatan terintegrasi, rantai pasok dapat menjadi lebih efisien dan berkelanjutan.

Produksi Berkelanjutan sebagai Strategi Bisnis: Refleksi dari The Business Logic of Sustainability ( Tugas Mandiri 10 )

 

A. Identitas Video dan Ringkasan

Judul Video: The Business Logic of Sustainability
Sumber: TED Talk / Presentasi Publik Ray Anderson (±2009)
Tokoh Utama: Ray C. Anderson (Pendiri dan CEO Interface Inc.)

Video The Business Logic of Sustainability menyampaikan kisah transformasi Interface Inc., perusahaan karpet global, dari bisnis konvensional menjadi pelopor keberlanjutan. Ray Anderson menjelaskan bagaimana kesadaran etis dan tekanan lingkungan mendorong perubahan strategi perusahaan menuju efisiensi sumber daya, pengurangan limbah, dan inovasi model bisnis. Pesan inti video ini adalah bahwa keberlanjutan bukan sekadar kewajiban moral atau kepatuhan regulasi, melainkan sebuah logika bisnis yang rasional karena mampu menurunkan biaya, mendorong inovasi, serta memperkuat daya saing jangka panjang.

B. Analisis Ide Kunci dan Penerapannya

Ide 1: Keberlanjutan sebagai Strategi Bisnis

Penjelasan Singkat: Keberlanjutan diposisikan sebagai sumber keunggulan kompetitif, bukan beban biaya. Efisiensi energi dan material justru meningkatkan profitabilitas.

Sektor Industri Target: Manufaktur, FMCG, elektronik.

Rencana Penerapan Praktis: Melakukan audit energi dan material untuk mengidentifikasi pemborosan, lalu mengonversinya menjadi efisiensi biaya produksi.

Ide 2: Life Cycle Thinking dalam Desain Produk

Penjelasan Singkat: Setiap produk harus dirancang dengan mempertimbangkan dampak lingkungan sepanjang siklus hidupnya, dari bahan baku hingga akhir masa pakai.

Sektor Industri Target: Tekstil, furnitur, elektronik.

Rencana Penerapan Praktis: Mengembangkan desain modular yang mudah diperbaiki dan dibongkar agar komponen dapat digunakan kembali atau didaur ulang.

Ide 3: Model Bisnis Berbasis Layanan (Product–Service System)

Penjelasan Singkat: Interface tidak menjual karpet, melainkan menjual layanan lantai, sehingga kepemilikan produk tetap berada pada perusahaan.

Sektor Industri Target: Elektronik, peralatan kantor, furnitur.

Rencana Penerapan Praktis: Perusahaan printer menawarkan layanan cetak, sementara kartrid tinta tetap dimiliki perusahaan untuk memastikan pengumpulan dan daur ulang.

Ide 4: Zero Waste dan Efisiensi Sumber Daya

Penjelasan Singkat: Target nol limbah mendorong optimalisasi proses dan pemanfaatan sisa material produksi.

Sektor Industri Target: Manufaktur, makanan dan minuman.

Rencana Penerapan Praktis: Limbah produksi digunakan kembali sebagai bahan baku sekunder atau melalui kerja sama simbiosis industri.

Ide 5: Kepemimpinan dan Budaya Keberlanjutan

Penjelasan Singkat: Transformasi keberlanjutan harus dimulai dari komitmen pimpinan dan tertanam dalam budaya perusahaan.

Sektor Industri Target: Seluruh sektor industri.

Rencana Penerapan Praktis: Menetapkan target keberlanjutan yang terukur dan mengaitkannya dengan evaluasi kinerja manajemen dan karyawan.

C. Kesimpulan dan Refleksi

Video ini menegaskan bahwa Produksi Berkelanjutan merupakan kebutuhan mendesak bagi industri modern di tengah krisis lingkungan dan keterbatasan sumber daya. Keberlanjutan terbukti mampu menciptakan nilai ekonomi sekaligus manfaat lingkungan dan sosial. Setelah menonton video ini, pandangan saya mengenai keberlanjutan berubah dari sekadar idealisme etis menjadi strategi bisnis yang realistis dan menguntungkan. The Business Logic of Sustainability memperkuat keyakinan bahwa perusahaan yang mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam strategi inti akan lebih tangguh dan relevan di masa depan.

Studi Kasus Implementasi Produksi Berkelanjutan pada PT Unilever Indonesia Tbk ( Tugas Terstruktur 10 )

 

A. Profil Perusahaan dan Latar Belakang

Nama Perusahaan: PT Unilever Indonesia Tbk
Sektor Industri: Manufaktur (Fast Moving Consumer Goods/FMCG)

PT Unilever Indonesia Tbk merupakan perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang produk konsumen sehari-hari, seperti makanan dan minuman, produk perawatan rumah tangga, serta perawatan tubuh dan personal care. Beberapa merek yang dikenal luas antara lain Lifebuoy, Sunsilk, Rinso, dan Bango. Perusahaan ini beroperasi di Indonesia sebagai bagian dari Unilever global.

Motivasi utama Unilever Indonesia dalam mengadopsi Produksi Berkelanjutan didorong oleh beberapa faktor, yaitu komitmen global Unilever Sustainable Living Plan (USLP), tekanan konsumen terhadap produk ramah lingkungan, upaya menjaga citra merek, serta kebutuhan jangka panjang untuk efisiensi sumber daya dan keberlanjutan bisnis.

B. Strategi Keberlanjutan yang Digunakan

Unilever Indonesia menerapkan berbagai strategi keberlanjutan, dua di antaranya yang paling menonjol adalah:

  1. Penerapan Ekonomi Sirkular dan Pengurangan Limbah
    Unilever berkomitmen untuk mengurangi limbah plastik melalui pengurangan kemasan, penggunaan plastik daur ulang, serta program pengumpulan dan daur ulang kemasan pasca-konsumsi. Strategi ini sejalan dengan konsep Sustainable Consumption and Production (SCP) karena mendorong pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab dan efisiensi penggunaan material.

  2. Efisiensi Energi dan Transisi Energi Terbarukan
    Dalam proses produksinya, Unilever Indonesia berupaya meningkatkan efisiensi energi dan menggunakan sumber energi yang lebih bersih. Langkah ini mendukung SCP dengan mengurangi dampak lingkungan dari proses produksi sekaligus menekan konsumsi sumber daya tak terbarukan.

C. Indikator Keberlanjutan (Triple Bottom Line)

1. Indikator Lingkungan (Planet)

Unilever Indonesia melaporkan berbagai upaya pengurangan dampak lingkungan, seperti penurunan intensitas emisi karbon dari proses produksi, efisiensi penggunaan air, serta pengelolaan limbah pabrik dengan prinsip zero waste to landfill. Upaya ini menunjukkan peningkatan efisiensi sumber daya dan pengurangan tekanan terhadap lingkungan.

2. Indikator Ekonomi (Profit)

Strategi keberlanjutan berdampak positif pada kinerja ekonomi perusahaan, antara lain melalui penghematan biaya operasional dari efisiensi energi dan air, serta peningkatan daya saing produk ramah lingkungan. Produk dengan klaim keberlanjutan juga memperkuat loyalitas konsumen dan nilai merek dalam jangka panjang.

3. Indikator Sosial (People)

Pada aspek sosial, Unilever Indonesia menerapkan standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3), program pelatihan karyawan, serta kebijakan fair wage. Selain itu, perusahaan aktif dalam program pemberdayaan masyarakat dan petani lokal sebagai bagian dari rantai pasok berkelanjutan.

D. Dampak dan Evaluasi Hasil

Dampak Positif:
Implementasi Produksi Berkelanjutan oleh Unilever Indonesia memberikan dampak positif berupa pengurangan limbah dan emisi, peningkatan efisiensi sumber daya, serta kontribusi terhadap kesejahteraan pekerja dan masyarakat sekitar.

Tantangan:
Tantangan terbesar yang dihadapi adalah pengelolaan limbah plastik pasca-konsumsi yang sangat bergantung pada perilaku konsumen dan infrastruktur daur ulang di Indonesia.

Evaluasi:
Secara keseluruhan, strategi keberlanjutan Unilever Indonesia dapat dinilai cukup efektif dan konsisten dengan prinsip Sustainable Consumption and Production. Namun, untuk mencapai keberlanjutan yang sejati, perusahaan perlu terus meningkatkan kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat agar dampak positif yang dihasilkan dapat berskala lebih luas dan berjangka panjang.

Refleksi Etika Rekayasa dan Strategi Penerapan Ekologi Industri dalam Dunia Kerja (Tugas Mandiri 15)

  Refleksi Singkat  Integritas etika merupakan fondasi utama bagi masa depan industri di Indonesia yang berkelanjutan. Tanpa nilai kejujura...