Minggu, 14 Desember 2025

Mulai dari Rumah: 3 Langkah Menjadi Konsumen Berkelanjutan ( Tugas Terstruktur 12 )



 


Analisis Potensi Reverse Logistics pada Baterai Smartphone Bekas di Indonesia (Tugas Mandiri 11)

1. Pemilihan Produk dan Fokus Analisis

A. Pemilihan Produk

Produk/limbah yang dipilih dalam tugas ini adalah baterai smartphone bekas, yang termasuk dalam kategori Limbah Elektronik (E-Waste). Baterai smartphone dipilih karena jumlah pengguna smartphone di Indonesia sangat besar, sementara baterai memiliki umur pakai terbatas dan mengandung bahan berbahaya seperti litium, kobalt, dan elektrolit kimia.

B. Fokus Analisis

Fokus utama analisis ini adalah menjawab pertanyaan: apakah baterai smartphone bekas sudah memiliki sistem alur balik (reverse logistics) yang efektif di Indonesia, serta bagaimana potensi pengembangannya ke depan. Saat ini, sistem pengelolaan baterai bekas di Indonesia masih terbatas dan belum terintegrasi secara nasional.

2. Metodologi Observasi dan Pencatatan

Data diperoleh melalui pengamatan umum di lingkungan masyarakat, informasi dari situs resmi produsen smartphone, program e-waste, serta berita daring terkait pengelolaan limbah elektronik di Indonesia.

A. Alur Maju (Forward Flow)

Alur distribusi baterai smartphone bersifat tidak terpisah dari produk smartphone itu sendiri. Produsen mendistribusikan smartphone melalui distributor nasional, kemudian ke ritel resmi maupun daring, hingga akhirnya dibeli dan digunakan oleh konsumen.

B. Pengelolaan Limbah Saat Ini (Current State)

Pihak yang Mengumpulkan:
Sebagian kecil baterai smartphone bekas dikumpulkan melalui program e-waste oleh produsen tertentu, drop box di pusat perbelanjaan, atau diserahkan ke bank sampah khusus. Namun, mayoritas baterai bekas masih disimpan di rumah atau dibuang bersama sampah elektronik lain secara informal.

Alat/Infrastruktur Pengumpulan:
Infrastruktur pengumpulan masih terbatas, seperti drop box e-waste di mall, kantor, atau event tertentu. Akses terhadap fasilitas ini belum merata di seluruh wilayah.

Destinasi Akhir:
Baterai yang terkumpul umumnya dikirim ke pengepul e-waste atau pihak ketiga untuk disimpan sementara, diekspor, atau diproses secara terbatas. Banyak baterai berakhir di TPA atau lingkungan informal.

Keberlanjutan Sistem:
Sistem pengumpulan belum berjalan rutin, kurang mudah diakses, dan minim insentif bagi konsumen, sehingga partisipasi masyarakat masih rendah.

3. Analisis Potensi Alur Balik (Reverse Flow Potential)

A. Identifikasi Nilai (Value Recovery)

Nilai utama yang dapat dipulihkan dari baterai smartphone bekas adalah Recycling/Daur Ulang. Material bernilai seperti litium, kobalt, dan nikel dapat diekstraksi kembali untuk bahan baku baterai baru atau produk elektronik lainnya.

B. Usulan Alur Balik Ideal

Titik Inisiasi Pengembalian:
Proses pengembalian idealnya dimulai oleh konsumen, dengan dukungan produsen melalui skema Extended Producer Responsibility (EPR).

Aliran Logistik Balik:
Konsumen mengembalikan baterai bekas ke drop box di ritel resmi atau pusat layanan purna jual. Selanjutnya, baterai dikumpulkan secara berkala menggunakan transportasi darat menuju pusat pengumpulan regional untuk penyortiran dan penyimpanan aman.

Destinasi Akhir:
Baterai kemudian dikirim ke fasilitas daur ulang khusus e-waste, baik di dalam negeri (jika tersedia) maupun melalui kerja sama pengolahan regional.

C. Tantangan dan Rekomendasi

Tantangan 1: Rendahnya kesadaran konsumen mengenai bahaya dan nilai baterai bekas.
Tantangan 2: Keterbatasan infrastruktur dan biaya logistik pengumpulan e-waste.

Rekomendasi:
Pemerintah dan produsen perlu memperkuat regulasi EPR serta memberikan insentif langsung bagi konsumen, seperti potongan harga atau poin reward saat mengembalikan baterai bekas, guna meningkatkan partisipasi dan efektivitas sistem reverse logistics.

Kesimpulan Singkat:
Baterai smartphone bekas di Indonesia belum memiliki sistem alur balik yang efektif. Namun, dengan nilai material yang tinggi dan dukungan kebijakan serta kolaborasi produsen–konsumen, sistem reverse logistics memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan.

Analisis Green Supply Chain Management pada Produk Air Mineral Kemasan Botol Plastik (Tugas Terstruktur 11)

 

1. Pemilihan dan Pemetaan Produk

A. Pemilihan Produk

Produk yang dipilih dalam analisis ini adalah air mineral dalam botol plastik PET ukuran 600 ml, yang termasuk dalam kategori Minuman Kemasan. Produk ini dipilih karena tingkat konsumsinya sangat tinggi di Indonesia dan berkontribusi signifikan terhadap timbulan sampah plastik.

B. Pemetaan Rantai Pasok Konvensional

Berikut adalah pemetaan rantai pasok konvensional air mineral kemasan botol plastik secara sistematis:

Pengadaan Bahan Baku (Sourcing)
Bahan baku utama meliputi plastik PET virgin yang berasal dari minyak bumi, air baku dari sumber mata air atau air tanah, serta bahan tambahan seperti label plastik dan tutup botol.


Produksi / Manufaktur
Proses produksi dilakukan di pabrik pembotolan yang meliputi pembuatan botol (blowing), pengolahan dan penyaringan air, pengisian (filling), serta pengemasan. Tahapan ini memerlukan konsumsi energi listrik dan air yang cukup besar.


Logistik Masuk & Keluar (Inbound & Outbound Logistics)
Bahan baku plastik dan kemasan diangkut ke pabrik menggunakan truk berbahan bakar diesel. Produk jadi kemudian didistribusikan ke gudang dan distributor dengan moda transportasi darat.


Distribusi / Ritel
Produk disalurkan melalui distributor, grosir, minimarket, supermarket, dan pedagang kaki lima hingga akhirnya dibeli oleh konsumen.


Akhir Masa Pakai (End-of-Life)
Sebagian besar botol plastik dibuang sebagai sampah rumah tangga. Hanya sebagian kecil yang dikumpulkan oleh pemulung untuk didaur ulang, sementara sisanya berakhir di TPA atau mencemari lingkungan.

2. Analisis Dampak Lingkungan (Titik Kritis)

Titik Kritis 1: Pengadaan Bahan Baku

Masalah Lingkungan:
Penggunaan plastik PET virgin yang berasal dari bahan bakar fosil menyebabkan emisi gas rumah kaca tinggi dan meningkatkan ketergantungan pada sumber daya tak terbarukan.

Titik Kritis 2: Logistik dan Distribusi

Masalah Lingkungan:
Distribusi jarak jauh menggunakan truk diesel menghasilkan emisi CO₂ yang signifikan, terutama ketika efisiensi muatan rendah dan rute distribusi tidak optimal.

3. Usulan Strategi Green Supply Chain Management (GSCM)

Strategi 1: Pengadaan Hijau (Green Sourcing)

Prinsip GSCM: Green Sourcing
Deskripsi Strategi: Mengganti minimal 50% plastik PET virgin dengan plastik PET daur ulang (rPET).
Implementasi: Menjalin kemitraan dengan pemasok rPET lokal dan berinvestasi pada teknologi pemurnian rPET food grade.
Manfaat Lingkungan: Mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dan menurunkan volume sampah plastik ke TPA.

Strategi 2: Logistik Hijau (Green Logistics)

Prinsip GSCM: Green Logistics
Deskripsi Strategi: Optimalisasi rute distribusi dan peningkatan tingkat muatan kendaraan.
Implementasi: Menggunakan sistem manajemen transportasi (TMS) untuk perencanaan rute dan konsolidasi pengiriman.
Manfaat Lingkungan: Penurunan emisi CO₂ dari sektor transportasi dan peningkatan efisiensi bahan bakar.

Strategi 3: Reverse Logistics

Prinsip GSCM: Reverse Logistics
Deskripsi Strategi: Penerapan sistem pengembalian botol plastik pasca-konsumsi (take-back system).
Implementasi: Menyediakan drop box botol di ritel modern dan bekerja sama dengan bank sampah.
Manfaat Lingkungan: Meningkatkan tingkat daur ulang dan mengurangi pencemaran plastik di lingkungan.

Kesimpulan Singkat:
Penerapan strategi GSCM pada produk air mineral kemasan botol plastik berpotensi signifikan dalam menekan dampak lingkungan, khususnya pada penggunaan material dan aktivitas logistik. Dengan pendekatan terintegrasi, rantai pasok dapat menjadi lebih efisien dan berkelanjutan.

Produksi Berkelanjutan sebagai Strategi Bisnis: Refleksi dari The Business Logic of Sustainability ( Tugas Mandiri 10 )

 

A. Identitas Video dan Ringkasan

Judul Video: The Business Logic of Sustainability
Sumber: TED Talk / Presentasi Publik Ray Anderson (±2009)
Tokoh Utama: Ray C. Anderson (Pendiri dan CEO Interface Inc.)

Video The Business Logic of Sustainability menyampaikan kisah transformasi Interface Inc., perusahaan karpet global, dari bisnis konvensional menjadi pelopor keberlanjutan. Ray Anderson menjelaskan bagaimana kesadaran etis dan tekanan lingkungan mendorong perubahan strategi perusahaan menuju efisiensi sumber daya, pengurangan limbah, dan inovasi model bisnis. Pesan inti video ini adalah bahwa keberlanjutan bukan sekadar kewajiban moral atau kepatuhan regulasi, melainkan sebuah logika bisnis yang rasional karena mampu menurunkan biaya, mendorong inovasi, serta memperkuat daya saing jangka panjang.

B. Analisis Ide Kunci dan Penerapannya

Ide 1: Keberlanjutan sebagai Strategi Bisnis

Penjelasan Singkat: Keberlanjutan diposisikan sebagai sumber keunggulan kompetitif, bukan beban biaya. Efisiensi energi dan material justru meningkatkan profitabilitas.

Sektor Industri Target: Manufaktur, FMCG, elektronik.

Rencana Penerapan Praktis: Melakukan audit energi dan material untuk mengidentifikasi pemborosan, lalu mengonversinya menjadi efisiensi biaya produksi.

Ide 2: Life Cycle Thinking dalam Desain Produk

Penjelasan Singkat: Setiap produk harus dirancang dengan mempertimbangkan dampak lingkungan sepanjang siklus hidupnya, dari bahan baku hingga akhir masa pakai.

Sektor Industri Target: Tekstil, furnitur, elektronik.

Rencana Penerapan Praktis: Mengembangkan desain modular yang mudah diperbaiki dan dibongkar agar komponen dapat digunakan kembali atau didaur ulang.

Ide 3: Model Bisnis Berbasis Layanan (Product–Service System)

Penjelasan Singkat: Interface tidak menjual karpet, melainkan menjual layanan lantai, sehingga kepemilikan produk tetap berada pada perusahaan.

Sektor Industri Target: Elektronik, peralatan kantor, furnitur.

Rencana Penerapan Praktis: Perusahaan printer menawarkan layanan cetak, sementara kartrid tinta tetap dimiliki perusahaan untuk memastikan pengumpulan dan daur ulang.

Ide 4: Zero Waste dan Efisiensi Sumber Daya

Penjelasan Singkat: Target nol limbah mendorong optimalisasi proses dan pemanfaatan sisa material produksi.

Sektor Industri Target: Manufaktur, makanan dan minuman.

Rencana Penerapan Praktis: Limbah produksi digunakan kembali sebagai bahan baku sekunder atau melalui kerja sama simbiosis industri.

Ide 5: Kepemimpinan dan Budaya Keberlanjutan

Penjelasan Singkat: Transformasi keberlanjutan harus dimulai dari komitmen pimpinan dan tertanam dalam budaya perusahaan.

Sektor Industri Target: Seluruh sektor industri.

Rencana Penerapan Praktis: Menetapkan target keberlanjutan yang terukur dan mengaitkannya dengan evaluasi kinerja manajemen dan karyawan.

C. Kesimpulan dan Refleksi

Video ini menegaskan bahwa Produksi Berkelanjutan merupakan kebutuhan mendesak bagi industri modern di tengah krisis lingkungan dan keterbatasan sumber daya. Keberlanjutan terbukti mampu menciptakan nilai ekonomi sekaligus manfaat lingkungan dan sosial. Setelah menonton video ini, pandangan saya mengenai keberlanjutan berubah dari sekadar idealisme etis menjadi strategi bisnis yang realistis dan menguntungkan. The Business Logic of Sustainability memperkuat keyakinan bahwa perusahaan yang mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam strategi inti akan lebih tangguh dan relevan di masa depan.

Studi Kasus Implementasi Produksi Berkelanjutan pada PT Unilever Indonesia Tbk ( Tugas Terstruktur 10 )

 

A. Profil Perusahaan dan Latar Belakang

Nama Perusahaan: PT Unilever Indonesia Tbk
Sektor Industri: Manufaktur (Fast Moving Consumer Goods/FMCG)

PT Unilever Indonesia Tbk merupakan perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang produk konsumen sehari-hari, seperti makanan dan minuman, produk perawatan rumah tangga, serta perawatan tubuh dan personal care. Beberapa merek yang dikenal luas antara lain Lifebuoy, Sunsilk, Rinso, dan Bango. Perusahaan ini beroperasi di Indonesia sebagai bagian dari Unilever global.

Motivasi utama Unilever Indonesia dalam mengadopsi Produksi Berkelanjutan didorong oleh beberapa faktor, yaitu komitmen global Unilever Sustainable Living Plan (USLP), tekanan konsumen terhadap produk ramah lingkungan, upaya menjaga citra merek, serta kebutuhan jangka panjang untuk efisiensi sumber daya dan keberlanjutan bisnis.

B. Strategi Keberlanjutan yang Digunakan

Unilever Indonesia menerapkan berbagai strategi keberlanjutan, dua di antaranya yang paling menonjol adalah:

  1. Penerapan Ekonomi Sirkular dan Pengurangan Limbah
    Unilever berkomitmen untuk mengurangi limbah plastik melalui pengurangan kemasan, penggunaan plastik daur ulang, serta program pengumpulan dan daur ulang kemasan pasca-konsumsi. Strategi ini sejalan dengan konsep Sustainable Consumption and Production (SCP) karena mendorong pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab dan efisiensi penggunaan material.

  2. Efisiensi Energi dan Transisi Energi Terbarukan
    Dalam proses produksinya, Unilever Indonesia berupaya meningkatkan efisiensi energi dan menggunakan sumber energi yang lebih bersih. Langkah ini mendukung SCP dengan mengurangi dampak lingkungan dari proses produksi sekaligus menekan konsumsi sumber daya tak terbarukan.

C. Indikator Keberlanjutan (Triple Bottom Line)

1. Indikator Lingkungan (Planet)

Unilever Indonesia melaporkan berbagai upaya pengurangan dampak lingkungan, seperti penurunan intensitas emisi karbon dari proses produksi, efisiensi penggunaan air, serta pengelolaan limbah pabrik dengan prinsip zero waste to landfill. Upaya ini menunjukkan peningkatan efisiensi sumber daya dan pengurangan tekanan terhadap lingkungan.

2. Indikator Ekonomi (Profit)

Strategi keberlanjutan berdampak positif pada kinerja ekonomi perusahaan, antara lain melalui penghematan biaya operasional dari efisiensi energi dan air, serta peningkatan daya saing produk ramah lingkungan. Produk dengan klaim keberlanjutan juga memperkuat loyalitas konsumen dan nilai merek dalam jangka panjang.

3. Indikator Sosial (People)

Pada aspek sosial, Unilever Indonesia menerapkan standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3), program pelatihan karyawan, serta kebijakan fair wage. Selain itu, perusahaan aktif dalam program pemberdayaan masyarakat dan petani lokal sebagai bagian dari rantai pasok berkelanjutan.

D. Dampak dan Evaluasi Hasil

Dampak Positif:
Implementasi Produksi Berkelanjutan oleh Unilever Indonesia memberikan dampak positif berupa pengurangan limbah dan emisi, peningkatan efisiensi sumber daya, serta kontribusi terhadap kesejahteraan pekerja dan masyarakat sekitar.

Tantangan:
Tantangan terbesar yang dihadapi adalah pengelolaan limbah plastik pasca-konsumsi yang sangat bergantung pada perilaku konsumen dan infrastruktur daur ulang di Indonesia.

Evaluasi:
Secara keseluruhan, strategi keberlanjutan Unilever Indonesia dapat dinilai cukup efektif dan konsisten dengan prinsip Sustainable Consumption and Production. Namun, untuk mencapai keberlanjutan yang sejati, perusahaan perlu terus meningkatkan kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat agar dampak positif yang dihasilkan dapat berskala lebih luas dan berjangka panjang.

Analisis Kursi Lipat Berdasarkan Prinsip Design for Environment (DfE) (Tugas Mandiri 09)

 Nama : Wisnu Prasetyo Aji

Nim : 41624010010

A10

Deskripsi Produk

Produk yang diamati dalam tugas ini adalah kursi lipat yang banyak digunakan di lingkungan rumah maupun kampus, seperti di ruang kelas, aula, dan kegiatan kemahasiswaan. Kursi lipat dipilih karena bersifat praktis, mudah dipindahkan, serta dapat dilipat sehingga menghemat ruang penyimpanan. Fungsi utama kursi lipat adalah sebagai tempat duduk sementara yang mendukung aktivitas belajar, diskusi, dan acara tertentu. Produk ini umumnya diproduksi secara massal dan digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat, sehingga berpotensi memberikan dampak lingkungan yang cukup besar jika tidak dirancang secara berkelanjutan.



Analisis Fitur Tidak Ramah Lingkungan

Material utama kursi lipat umumnya terdiri dari rangka logam (baja atau aluminium) dan dudukan serta sandaran dari plastik atau kain sintetis. Beberapa fitur desain kursi lipat yang berpotensi tidak ramah lingkungan antara lain:

  1. Penggunaan material campuran: Kombinasi logam, plastik, dan kain sintetis menyulitkan proses pemisahan material saat daur ulang.

  2. Plastik sulit terurai: Dudukan dan sandaran dari plastik umumnya berasal dari bahan non-biodegradable.

  3. Desain tidak modular: Komponen kursi sering disatukan secara permanen dengan paku keling atau las, sehingga sulit diperbaiki jika salah satu bagian rusak.

  4. Umur pakai terbatas: Kursi lipat murah sering mengalami kerusakan pada engsel atau rangka, sehingga cepat menjadi limbah.

Kaitan dengan Prinsip Design for Environment (DfE)

Beberapa fitur desain kursi lipat tersebut bertentangan dengan prinsip Design for Environment (DfE), antara lain:

  • Reduce: Umur pakai yang pendek menyebabkan peningkatan jumlah limbah produk.

  • Reuse: Desain yang sulit diperbaiki membatasi potensi penggunaan ulang dalam jangka panjang.

  • Recycle: Material campuran yang tidak mudah dipisahkan menghambat proses daur ulang yang efisien.

  • Recover: Potensi pemulihan material logam menjadi rendah karena proses pembongkaran yang rumit.

  • Redesign: Kursi lipat belum sepenuhnya dirancang dengan mempertimbangkan kemudahan perbaikan dan akhir siklus hidup produk.

Refleksi dan Ide Perbaikan

Beberapa ide perbaikan sederhana agar kursi lipat menjadi lebih ramah lingkungan antara lain:

  1. Desain modular dan mudah dibongkar, sehingga komponen seperti dudukan atau engsel dapat diganti tanpa membuang seluruh kursi.

  2. Penggunaan material daur ulang atau ramah lingkungan, seperti plastik daur ulang atau kayu bersertifikat, untuk mengurangi dampak lingkungan.

Dengan penerapan prinsip DfE, kursi lipat dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih berkelanjutan, memiliki umur pakai lebih panjang, dan menghasilkan limbah yang lebih sedikit.

Analisis Fitur Tidak Ramah Lingkungan

Material utama kursi lipat umumnya terdiri dari rangka logam (baja atau aluminium) dan dudukan serta sandaran dari plastik atau kain sintetis. Beberapa fitur desain kursi lipat yang berpotensi tidak ramah lingkungan antara lain:

  1. Penggunaan material campuran: Kombinasi logam, plastik, dan kain sintetis menyulitkan proses pemisahan material saat daur ulang.

  2. Plastik sulit terurai: Dudukan dan sandaran dari plastik umumnya berasal dari bahan non-biodegradable.

  3. Desain tidak modular: Komponen kursi sering disatukan secara permanen dengan paku keling atau las, sehingga sulit diperbaiki jika salah satu bagian rusak.

  4. Umur pakai terbatas: Kursi lipat murah sering mengalami kerusakan pada engsel atau rangka, sehingga cepat menjadi limbah.

Kaitan dengan Prinsip Design for Environment (DfE)

Beberapa fitur desain kursi lipat tersebut bertentangan dengan prinsip Design for Environment (DfE), antara lain:

  • Reduce: Umur pakai yang pendek menyebabkan peningkatan jumlah limbah produk.

  • Reuse: Desain yang sulit diperbaiki membatasi potensi penggunaan ulang dalam jangka panjang.

  • Recycle: Material campuran yang tidak mudah dipisahkan menghambat proses daur ulang yang efisien.

  • Recover: Potensi pemulihan material logam menjadi rendah karena proses pembongkaran yang rumit.

  • Redesign: Kursi lipat belum sepenuhnya dirancang dengan mempertimbangkan kemudahan perbaikan dan akhir siklus hidup produk.

Refleksi dan Ide Perbaikan

Beberapa ide perbaikan sederhana agar kursi lipat menjadi lebih ramah lingkungan antara lain:

  1. Desain modular dan mudah dibongkar, sehingga komponen seperti dudukan atau engsel dapat diganti tanpa membuang seluruh kursi.

  2. Penggunaan material daur ulang atau ramah lingkungan, seperti plastik daur ulang atau kayu bersertifikat, untuk mengurangi dampak lingkungan.

Dengan penerapan prinsip DfE, kursi lipat dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih berkelanjutan, memiliki umur pakai lebih panjang, dan menghasilkan limbah yang lebih sedikit.

Minggu, 07 Desember 2025

Tugas terstruktur 09




Kelompok 4 

- Wisnu Aji Prasetyo (41624010010)

- Shelly Anastasya M (41624010011)

- Qhobid Casio (41624010012)


Produk yang Dipilih: Botol Minum Plastik (Reusable Bottle)


1. Pemilihan Produk

Kelompok memilih botol minum plastik sebagai objek analisis. Produk ini sangat mudah ditemukan, sering digunakan mahasiswa, dan tersedia dalam berbagai merek. Dokumentasi berupa foto botol minum disertakan saat presentasi/tugas.

2. Analisis Desain Awal

• Fungsi Utama Produk

Botol minum berfungsi sebagai wadah untuk menyimpan dan membawa air atau minuman, sehingga pengguna dapat mengonsumsi cairan secara praktis di luar ruangan.

• Material yang Digunakan

•Badan botol: Plastik PET/PP
•Tutup botol: PP (Polypropylene)
•Seal karet: Silicone Rubber
•Label/printing: Tinta sintetis

• Elemen Desain yang Diamati

•Bentuk: Silinder tinggi, ergonomis, •mudah digenggam
•Ukuran: ± 600–750 ml
•Warna: Transparan/warna pastel
•Fitur tambahan: Tutup flip, tali pegangan, tekstur anti-slip

3. Identifikasi Masalah Lingkungan (Prinsip DfE)

• Material

• Menggunakan plastik yang bisa didaur ulang, tetapi sering terkontaminasi oleh warna/tinta sehingga proses daur ulang tidak optimal.
• Seal karet terpisah jenis materialnya → menyulitkan proses pemisahan.

• Produksi

• Proses injection/blow molding membutuhkan energi cukup tinggi.
• Pewarna dan tinta label berpotensi menghasilkan limbah kimia.

• Penggunaan

• Produk sendiri ramah lingkungan karena reusable, tetapi
desain tutup yang rumit bisa menyebabkan kebocoran dan mempercepat pembuangan ke sampah.

• Akhir Siklus Hidup

• Produk tidak mudah dipisahkan materialnya (plastik + silikon tercampur).

• Ada bagian kecil (tali, karet) yang biasanya dibuang terpisah dan tidak didaur ulang.

4. Rekomendasi Perbaikan Desain (DfE)

Ide 1: Menggunakan Material Monomaterial (100% PP atau PET tanpa campuran silikon)

Alasan ramah lingkungan:

• Lebih mudah dan efisien dalam daur ulang, karena tidak perlu memisahkan komponen berbeda.

• Mengurangi limbah campuran yang biasanya berakhir di TPA.

Ide 2: Mengganti Pewarna/Tinta Menjadi Tinta Water-Based

Alasan ramah lingkungan:

• Mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya dalam produksi.

• Mempermudah proses daur ulang karena tidak ada kontaminasi tinta sintetis.

Ide 3: Desain Tutup Lebih Sederhana dan Tahan Lama

Alasan ramah lingkungan:

• Meningkatkan umur pakai sehingga pengguna tidak sering mengganti botol.

• Mengurangi risiko kebocoran produk tidak cepat dibuang mengurangi limbah plastik.

Ide 4 (opsional): Menambahkan Panduan Pembongkaran di Label

Alasan ramah lingkungan:

• Memudahkan konsumen memisahkan bagian-bagian botol sebelum dibuang.

• Mendukung circular economy dengan meningkatkan kemampuan recycling.


 

Refleksi Etika Rekayasa dan Strategi Penerapan Ekologi Industri dalam Dunia Kerja (Tugas Mandiri 15)

  Refleksi Singkat  Integritas etika merupakan fondasi utama bagi masa depan industri di Indonesia yang berkelanjutan. Tanpa nilai kejujura...