Minggu, 14 Desember 2025

Analisis Kursi Lipat Berdasarkan Prinsip Design for Environment (DfE) (Tugas Mandiri 09)

 Nama : Wisnu Prasetyo Aji

Nim : 41624010010

A10

Deskripsi Produk

Produk yang diamati dalam tugas ini adalah kursi lipat yang banyak digunakan di lingkungan rumah maupun kampus, seperti di ruang kelas, aula, dan kegiatan kemahasiswaan. Kursi lipat dipilih karena bersifat praktis, mudah dipindahkan, serta dapat dilipat sehingga menghemat ruang penyimpanan. Fungsi utama kursi lipat adalah sebagai tempat duduk sementara yang mendukung aktivitas belajar, diskusi, dan acara tertentu. Produk ini umumnya diproduksi secara massal dan digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat, sehingga berpotensi memberikan dampak lingkungan yang cukup besar jika tidak dirancang secara berkelanjutan.



Analisis Fitur Tidak Ramah Lingkungan

Material utama kursi lipat umumnya terdiri dari rangka logam (baja atau aluminium) dan dudukan serta sandaran dari plastik atau kain sintetis. Beberapa fitur desain kursi lipat yang berpotensi tidak ramah lingkungan antara lain:

  1. Penggunaan material campuran: Kombinasi logam, plastik, dan kain sintetis menyulitkan proses pemisahan material saat daur ulang.

  2. Plastik sulit terurai: Dudukan dan sandaran dari plastik umumnya berasal dari bahan non-biodegradable.

  3. Desain tidak modular: Komponen kursi sering disatukan secara permanen dengan paku keling atau las, sehingga sulit diperbaiki jika salah satu bagian rusak.

  4. Umur pakai terbatas: Kursi lipat murah sering mengalami kerusakan pada engsel atau rangka, sehingga cepat menjadi limbah.

Kaitan dengan Prinsip Design for Environment (DfE)

Beberapa fitur desain kursi lipat tersebut bertentangan dengan prinsip Design for Environment (DfE), antara lain:

  • Reduce: Umur pakai yang pendek menyebabkan peningkatan jumlah limbah produk.

  • Reuse: Desain yang sulit diperbaiki membatasi potensi penggunaan ulang dalam jangka panjang.

  • Recycle: Material campuran yang tidak mudah dipisahkan menghambat proses daur ulang yang efisien.

  • Recover: Potensi pemulihan material logam menjadi rendah karena proses pembongkaran yang rumit.

  • Redesign: Kursi lipat belum sepenuhnya dirancang dengan mempertimbangkan kemudahan perbaikan dan akhir siklus hidup produk.

Refleksi dan Ide Perbaikan

Beberapa ide perbaikan sederhana agar kursi lipat menjadi lebih ramah lingkungan antara lain:

  1. Desain modular dan mudah dibongkar, sehingga komponen seperti dudukan atau engsel dapat diganti tanpa membuang seluruh kursi.

  2. Penggunaan material daur ulang atau ramah lingkungan, seperti plastik daur ulang atau kayu bersertifikat, untuk mengurangi dampak lingkungan.

Dengan penerapan prinsip DfE, kursi lipat dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih berkelanjutan, memiliki umur pakai lebih panjang, dan menghasilkan limbah yang lebih sedikit.

Analisis Fitur Tidak Ramah Lingkungan

Material utama kursi lipat umumnya terdiri dari rangka logam (baja atau aluminium) dan dudukan serta sandaran dari plastik atau kain sintetis. Beberapa fitur desain kursi lipat yang berpotensi tidak ramah lingkungan antara lain:

  1. Penggunaan material campuran: Kombinasi logam, plastik, dan kain sintetis menyulitkan proses pemisahan material saat daur ulang.

  2. Plastik sulit terurai: Dudukan dan sandaran dari plastik umumnya berasal dari bahan non-biodegradable.

  3. Desain tidak modular: Komponen kursi sering disatukan secara permanen dengan paku keling atau las, sehingga sulit diperbaiki jika salah satu bagian rusak.

  4. Umur pakai terbatas: Kursi lipat murah sering mengalami kerusakan pada engsel atau rangka, sehingga cepat menjadi limbah.

Kaitan dengan Prinsip Design for Environment (DfE)

Beberapa fitur desain kursi lipat tersebut bertentangan dengan prinsip Design for Environment (DfE), antara lain:

  • Reduce: Umur pakai yang pendek menyebabkan peningkatan jumlah limbah produk.

  • Reuse: Desain yang sulit diperbaiki membatasi potensi penggunaan ulang dalam jangka panjang.

  • Recycle: Material campuran yang tidak mudah dipisahkan menghambat proses daur ulang yang efisien.

  • Recover: Potensi pemulihan material logam menjadi rendah karena proses pembongkaran yang rumit.

  • Redesign: Kursi lipat belum sepenuhnya dirancang dengan mempertimbangkan kemudahan perbaikan dan akhir siklus hidup produk.

Refleksi dan Ide Perbaikan

Beberapa ide perbaikan sederhana agar kursi lipat menjadi lebih ramah lingkungan antara lain:

  1. Desain modular dan mudah dibongkar, sehingga komponen seperti dudukan atau engsel dapat diganti tanpa membuang seluruh kursi.

  2. Penggunaan material daur ulang atau ramah lingkungan, seperti plastik daur ulang atau kayu bersertifikat, untuk mengurangi dampak lingkungan.

Dengan penerapan prinsip DfE, kursi lipat dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih berkelanjutan, memiliki umur pakai lebih panjang, dan menghasilkan limbah yang lebih sedikit.

Minggu, 07 Desember 2025

Tugas terstruktur 09




Kelompok 4 

- Wisnu Aji Prasetyo (41624010010)

- Shelly Anastasya M (41624010011)

- Qhobid Casio (41624010012)


Produk yang Dipilih: Botol Minum Plastik (Reusable Bottle)


1. Pemilihan Produk

Kelompok memilih botol minum plastik sebagai objek analisis. Produk ini sangat mudah ditemukan, sering digunakan mahasiswa, dan tersedia dalam berbagai merek. Dokumentasi berupa foto botol minum disertakan saat presentasi/tugas.

2. Analisis Desain Awal

• Fungsi Utama Produk

Botol minum berfungsi sebagai wadah untuk menyimpan dan membawa air atau minuman, sehingga pengguna dapat mengonsumsi cairan secara praktis di luar ruangan.

• Material yang Digunakan

•Badan botol: Plastik PET/PP
•Tutup botol: PP (Polypropylene)
•Seal karet: Silicone Rubber
•Label/printing: Tinta sintetis

• Elemen Desain yang Diamati

•Bentuk: Silinder tinggi, ergonomis, •mudah digenggam
•Ukuran: ± 600–750 ml
•Warna: Transparan/warna pastel
•Fitur tambahan: Tutup flip, tali pegangan, tekstur anti-slip

3. Identifikasi Masalah Lingkungan (Prinsip DfE)

• Material

• Menggunakan plastik yang bisa didaur ulang, tetapi sering terkontaminasi oleh warna/tinta sehingga proses daur ulang tidak optimal.
• Seal karet terpisah jenis materialnya → menyulitkan proses pemisahan.

• Produksi

• Proses injection/blow molding membutuhkan energi cukup tinggi.
• Pewarna dan tinta label berpotensi menghasilkan limbah kimia.

• Penggunaan

• Produk sendiri ramah lingkungan karena reusable, tetapi
desain tutup yang rumit bisa menyebabkan kebocoran dan mempercepat pembuangan ke sampah.

• Akhir Siklus Hidup

• Produk tidak mudah dipisahkan materialnya (plastik + silikon tercampur).

• Ada bagian kecil (tali, karet) yang biasanya dibuang terpisah dan tidak didaur ulang.

4. Rekomendasi Perbaikan Desain (DfE)

Ide 1: Menggunakan Material Monomaterial (100% PP atau PET tanpa campuran silikon)

Alasan ramah lingkungan:

• Lebih mudah dan efisien dalam daur ulang, karena tidak perlu memisahkan komponen berbeda.

• Mengurangi limbah campuran yang biasanya berakhir di TPA.

Ide 2: Mengganti Pewarna/Tinta Menjadi Tinta Water-Based

Alasan ramah lingkungan:

• Mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya dalam produksi.

• Mempermudah proses daur ulang karena tidak ada kontaminasi tinta sintetis.

Ide 3: Desain Tutup Lebih Sederhana dan Tahan Lama

Alasan ramah lingkungan:

• Meningkatkan umur pakai sehingga pengguna tidak sering mengganti botol.

• Mengurangi risiko kebocoran produk tidak cepat dibuang mengurangi limbah plastik.

Ide 4 (opsional): Menambahkan Panduan Pembongkaran di Label

Alasan ramah lingkungan:

• Memudahkan konsumen memisahkan bagian-bagian botol sebelum dibuang.

• Mendukung circular economy dengan meningkatkan kemampuan recycling.


 

Kamis, 06 November 2025

Tugas Mandiri 07

 Tugas Mandiri 07

Menonton dan Merangkum Video tentang LCIA & Interpretation

Wisnu Prasetyo Aji (416241010010)
A10

Tugas Terstruktur 07

 Tugas Terstruktur 07


Analisis Penilaian Dampak Lingkungan Berdasarkan Hasil LCI

Tugas Terstruktur 06

 

Botol Minum Plastik Sekali Pakai (PET)


1. Tujuan Studi 

Tujuan dari studi ini adalah untuk menilai potensi dampak lingkungan dari penggunaan botol plastik sekali pakai berbahan PET (Polyethylene Terephthalate) sebagai wadah air minum rumah tangga.
Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi sumber utama emisi karbon, penggunaan energi, serta limbah padat yang dihasilkan sepanjang siklus hidup botol, dan sebagai dasar untuk mengusulkan perbaikan desain atau sistem pengelolaan yang lebih berkelanjutan.


2. Unit Fungsional

Unit fungsional:

“1 liter air minum yang dikonsumsi menggunakan botol plastik PET berkapasitas 600 ml.”

Artinya, untuk memenuhi konsumsi 1 liter air, dibutuhkan sekitar dua botol 600 ml. Unit ini dipilih agar dapat dibandingkan dengan alternatif lain (misalnya botol isi ulang atau galon air 19L).

3. Lingkup Studi (Scope)

Pendekatan siklus hidup: Cradle-to-grave

Tahapan yang dianalisis:

  1. Ekstraksi dan pemrosesan bahan baku (minyak bumi menjadi resin PET)

  2. Manufaktur botol plastik (pembuatan preform dan blowing)

  3. Distribusi ke pasar (transportasi darat)

  4. Konsumsi (penggunaan oleh konsumen)

  5. Pembuangan akhir (TPA atau daur ulang)

Batas sistem:
Termasuk proses ekstraksi bahan baku, energi produksi, dan transportasi antartahap.
Dikecualikan: proses produksi air minum, aktivitas daur ulang pasca-konsumen di luar sistem formal, dan transportasi konsumen ke tempat pembelian.

Asumsi utama:

  • Masa pakai: sekali pakai (<1 hari)

  • Proporsi pembuangan: 70% TPA, 20% daur ulang, 10% bocor ke lingkungan

  • Jarak distribusi rata-rata: 500 km (truk diesel)

  • Energi listrik produksi: berbasis fosil

4. DIAGRAM SISTEM + BATAS SISTEM




5. INVENTARIS AWAL INPUT–OUTPUT UTAMA


TahapInput UtamaOutput Utama
Produksi resin PETMinyak bumi (naphta/ethylene), bahan kimia proses, energi (gas/ listrik), airResin PET, emisi CO₂, limbah proses, limbah cair
Manufaktur botol (blow molding)Listrik (mesin), air pendingin, resin PET (12 g/botol), bahan pengepakanBotol kosong, emisi CO₂ (elektrik), limbah plastik scrap
Pengisian & PengepakanEnergi (listrik), air untuk produksi minuman (tidak terhitung), botol kosong, tutup, label, kartonBotol berisi, limbah kemasan (label/tutup), emisi proses
DistribusiSolar/bahan bakar diesel (truk), kemasan palletEmisi transport (CO₂, NOₓ), keausan jalan
PenggunaanKonsumsi air; (energi pendinginan konsumen di luar batas)Botol bekas
Pembuangan akhirPengumpulan limbah, sorting (jika ada), pengolahan TPA atau fasilitas insinerasi, fasilitas daur ulangSampah plastik di TPA (metana dari sampah organik, tapi plastik tidak mudah terurai), emisi pembakaran (jika insinerasi), material daur ulang (jika berhasil disortir)

6. Catatan Awal dan Implikasi Keberlanjutan

Hasil inventaris awal menunjukkan bahwa tahap ekstraksi dan produksi PET memiliki kontribusi tertinggi terhadap emisi karbon dan penggunaan energi. Tahap pembuangan menimbulkan dampak jangka panjang berupa akumulasi limbah plastik dan potensi mikroplastik di lingkungan.

Langkah mitigasi yang dapat dipertimbangkan meliputi:

  • Penggunaan bahan daur ulang (rPET) untuk mengurangi kebutuhan bahan baku baru.

  • Pengembangan sistem isi ulang (refill system) dan peningkatan infrastruktur daur ulang.

  • Pengurangan jarak distribusi melalui produksi lokal.

  • Edukasi konsumen untuk mendorong perilaku Reduce–Reuse–Recycle.


Referensi 

  1. UNEP (2020). Single-use Plastics: A Roadmap for Sustainability.

  2. Ellen MacArthur Foundation (2021). Circular Economy and Plastics.

  3. Coca-Cola Company (2023). Sustainability Progress Report.

  4. Modul LCT – Ekologi Industri, Program Studi Teknik Lingkungan (2024).


Selasa, 04 November 2025

Tugas Mandiri 06

 

1. Sumber Primer ISO 14040 

ISO 14040 menjelaskan kerangka dan prinsip dalam melakukan Life Cycle Assessment (LCA). Tujuan LCA adalah untuk menilai dampak lingkungan dari suatu produk mulai dari ekstraksi bahan baku hingga akhir masa pakai (cradle to grave).
Konsep penting dalam LCA meliputi:

  • Goal and Scope Definition: Menetapkan tujuan studi dan batas sistem (dari bahan baku, produksi, distribusi, penggunaan, hingga pembuangan).

  • Functional Unit: Menentukan satuan fungsi produk yang diukur (misalnya, 1 botol sabun cair 450 ml).

  • Life Cycle Inventory (LCI): Mengidentifikasi semua input (energi, air, bahan kimia) dan output (limbah, emisi).

  • Impact Assessment: Mengevaluasi dampak terhadap lingkungan, seperti emisi gas rumah kaca, penggunaan energi, dan pencemaran air.

  • Interpretation: Menarik kesimpulan dan rekomendasi untuk pengurangan dampak lingkungan.


2. Observasi Produk Nyata

  • Nama produk: Sabun mandi cair Lifebuoy 450 ml

  • Fungsi utama: Membersihkan tubuh dari kotoran dan bakteri serta memberikan aroma segar.



3. Tabel Input–Output Produksi



4. Refleksi Singkat 

Dari observasi ini, saya belajar bahwa sebuah produk sederhana seperti sabun cair ternyata memiliki rantai proses yang panjang dan kompleks, dengan dampak lingkungan pada setiap tahapnya. Mulai dari penanaman kelapa sawit hingga pembuangan kemasan plastik, semuanya berkontribusi terhadap emisi dan pencemaran. Saya menyadari bahwa sebagian besar dampak berasal dari penggunaan bahan kimia sintetis dan kemasan sekali pakai.

Produk ini dapat dimodifikasi agar lebih ramah lingkungan dengan mengganti bahan baku menjadi minyak nabati berkelanjutan, menggunakan bahan biodegradable, dan menerapkan sistem isi ulang (refill system). Sebagai konsumen, saya berperan penting dalam memilih produk dengan label ramah lingkungan, menghemat pemakaian, serta mendaur ulang kemasan. Dengan keputusan kecil yang konsisten, kita bisa membantu mengurangi beban lingkungan dari siklus hidup produk sehari-hari.



Tugas Mandiri 05

 

 1.Identifikasi Produk

  • Nama produk: Sabun mandi cair Lifebuoy 450 ml

  • Fungsi utama: Membersihkan tubuh dari kotoran, minyak, dan bakteri, serta memberikan aroma segar pada kulit.

  • Perkiraan masa pakai: Sekitar 1–2 bulan tergantung frekuensi pemakaian.


2. Fase-Fase Siklus Hidup Produk

  1. Ekstraksi bahan baku:
    Bahan utama sabun seperti minyak kelapa sawit, bahan kimia sintetis (surfaktan, pewangi, pengawet), dan air diperoleh melalui proses pertanian serta industri kimia.

  2. Proses produksi:
    Bahan baku dicampur, dipanaskan, dan diproses dalam pabrik untuk menghasilkan sabun cair. Kemudian dikemas dalam botol plastik PET atau HDPE.

  3. Distribusi dan transportasi:
    Produk dikirim dari pabrik ke gudang distribusi, toko, dan konsumen menggunakan kendaraan logistik.

  4. Penggunaan oleh konsumen:
    Digunakan untuk mandi setiap hari, menghasilkan air bekas sabun (limbah cair rumah tangga).

  5. Pengelolaan limbah / akhir masa pakai:
    Setelah sabun habis, kemasan plastik biasanya dibuang, sebagian kecil dapat didaur ulang, tetapi sebagian besar menjadi limbah padat.


3. Analisis Potensi Dampak Lingkungan

FasePotensi Dampak Lingkungan
Ekstraksi bahan: bakuPenebangan hutan untuk perkebunan kelapa sawit; emisi CO₂; degradasi tanah dan kehilangan keanekaragaman hayati.
Produksi:Konsumsi energi tinggi; penggunaan bahan kimia; potensi limbah cair pabrik; penggunaan air besar.
Distribusi:Emisi dari transportasi; penggunaan bahan bakar fosil.
Penggunaan:Air limbah mengandung surfaktan dan bahan kimia yang dapat mencemari sungai jika tidak diolah dengan baik.
Akhir masa pakai:Kemasan plastik sulit terurai; jika dibuang sembarangan dapat mencemari tanah dan laut; potensi daur ulang tergantung jenis plastik.

4. Refleksi Pribadi 

Dari observasi ini, saya mengetahui bahwa sabun mandi, yang terlihat sederhana dan rutin digunakan setiap hari, ternyata memiliki rantai dampak lingkungan yang cukup kompleks. Proses awal dari bahan baku, terutama minyak kelapa sawit, memiliki implikasi besar terhadap deforestasi dan kehilangan habitat satwa. Selain itu, air limbah rumah tangga yang mengandung sisa sabun dapat berkontribusi pada pencemaran air jika tidak ditangani oleh sistem pengolahan limbah.

Sabun cair sebenarnya bisa didesain ulang agar lebih ramah lingkungan, misalnya dengan mengganti bahan kimia sintetis menjadi bahan alami dan biodegradable, serta menggunakan kemasan isi ulang atau botol dari bahan daur ulang. Produsen juga bisa mengembangkan sistem “refill station” agar konsumen dapat mengisi ulang sabun tanpa membeli kemasan baru.

Sebagai konsumen, saya dapat berperan dengan memilih produk berlabel ramah lingkungan, menghemat penggunaan sabun, dan membeli kemasan isi ulang. Saya juga bisa memilah botol bekas sabun agar tidak langsung dibuang ke lingkungan. Langkah sederhana ini bisa membantu mengurangi dampak negatif dari siklus hidup produk sabun terhadap bumi.

Refleksi Etika Rekayasa dan Strategi Penerapan Ekologi Industri dalam Dunia Kerja (Tugas Mandiri 15)

  Refleksi Singkat  Integritas etika merupakan fondasi utama bagi masa depan industri di Indonesia yang berkelanjutan. Tanpa nilai kejujura...